Monday, July 25, 2011

Buck Rodgers quote

"There are countless ways of attaining greatness. But any road to reaching one's maximum potential must be built on a bedrock of respect for the individual, a commitment to excellence, and a rejection of mediocrity." ~ Buck Rodgers, IBM

Sunday, July 24, 2011

Produk asuransi apa yang cocok buat saya?

April 29, 2011
Produk asuransi apa yang cocok buat saya? (1)

Dalam beberapa tahun terakhir ini perkembangan Industri Asuransi Jiwa di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat. Dari data yang diperoleh dari informasi publik maka dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2010 terjadi peningkatan +/- 1300% untuk perolehan Premi Baru.  Sedangkan untuk Total Premi (Premi Baru dan Premi Lanjutan) maka meningkat sebesar +/- 945% .  Jika kita melihat lebih dalam dari Kontribusi Produk yang menyumbangkan Nilai Premi tersebut maka tampaknya Produk Unit Link menjadi Primadona yang cukup fenomenal di Indonesia.   Di tahun 2010 Produk Unit Link memberikan kontribusi sebesar +/- 62%.
Dengan perkembangan fantastis dari Penjualan Produk Unit Link ini maka menimbulkan Pertanyaan bagi Penulis – Apakah masyarakat sudah memahami dengan jelas dan benar mengenai Produk Unit Link ini? Atau jika kita lebih fokus pada Kebutuhan Asuransi yang dikehendaki maka Apakah sebenarnya Produk Asuransi yang seharusnya saya miliki?
Pada tulisan ini tampaknya kita lebih baik memulai dengan mencoba menjawab Pertanyaan yang ke dua (2) yaitu Produk Asuransi jenis apa yang seharusnya saya miliki? Mengingat pada awalnya kita mengemukakan mengenai Industri Asuransi Jiwa maka tentunya kita akan mengupas produk-produk Asuransi Jiwa. Sebenarnya apa saja jenis-jenis Produk Asuransi Jiwa yang bisa kita miliki untuk menjadi Perlindungan Proteksi bagi sebuah Keluarga?
Beberapa Jenis Produk Asuransi Jiwa sebagai berikut :
Pada awalnya hanyalah Asuransi Kematian Berjangka. Jenis produk ini memberikan Manfaat berbentuk Santunan Kematian jika Nasabah mengalami musibah meninggal Dunia pada periode sesuai Jangka Waktu Kontrak. Sedangkan jika Nasabah Tetap Hidup pada  Akhir Jangka Waktu Kontrak, maka Tidak Ada Pembayaran Santunan yang diberikan. Asuransi ini biasa disebut sebagai Asuransi  Kematian atau Asuransi Premi Hangus. Karena dirasakan Tidak Adil bagi Nasabah mengingat Seluruh Premi Hangus jika Nasabah  Tetap Hidup di Akhir Kontrak maka dirasakan perlunya membuat Jenis Produk Asuransi Jiwa yang bisa memberikan Manfaat Santunan  Kematian kapan pun Kematian itu terjadi.
Oleh karena itu lahirlah Asuransi Seumur Hidup. Produk ini memberikan Manfaat berupa Santunan Kematian kapan pun Kematian itu  terjadi. Atau dengan kata lain sebenarnya Jenis Produk ini adalah Asuransi Kematian Berjangkawaktu Seumur Hidup Nasabah. Jadi  produk ini Pasti akan memberikan Santunan Kematian mengingat Setiap Manusia suatu saat pasti akan Meninggal Dunia. Namun bagaimana jika Nasabah ingin menikmati Hari Tuanya setelah mencapai usia Pensiun dengan memanfaatkan Dana Setoran Preminya?
Kemudian berkembanglah jenis produk Asuransi Dwi Guna. Jenis ini memberikan dua (2) manfaat yaitu Manfaat Santunan Kematian  pada saat Nasabah Meninggal Dunia pada jangka waktu kontrak. Selain itu produk ini juga memberikan Manfaat Dana Akhir Kontrak  jika Nasabah Tetap Hidup pada saat Akhir Kontrak.
Setelah itu Jenis Manfaat dari Produk Asuransi Jiwa berkembang menjadi
Santunan Kecelakaan; dimana Manfaat Santunan akan diberikan jika Nasabah mengalami Kecelakaan yang berakibat menderita hanya  luka-luka, dirawat di rumah sakit sampai dengan Meninggal Dunia karena Kecelakaan.
Santunan Cacat Tetap dan Total; dimana Manfaat Santunan akan dibayarkan jika Nasabah menderita Cacat yang sifatnya Permanen  dan Total atau biasa disebut bahwa Nasabah tidak mempunyai kemungkinan untuk kembali Normal dari Kecacatannya.
Santunan Penyakit Kritis; dimana Nasabah akan menerima Santunan jika Nasabah menderita salah satu Penyakit Kritis yang dipertanggungkan dalam kontrak.
Santunan Kesehatan; Nasabah akan mendapatkan Manfaat Santunan Dana Pengobatan jika menderita sakit sehingga harus mengalami  Rawat Inap atau Tindakan Medis di Rumah Sakit.
Santunan Bebas Premi; Nasabah akan dibebaskan dari membayar Premi yang sudah disepakati dalam kontrak apabila menderita  Cacat Tetap dan Total atau Penyakit Kritis atau jenis Manfaat Lainnya sesuai perjanjian.
Santunan Pasangan (Istri atau Suami); Nasabah akan diberikan manfaat berupa Santunan Dana atau Pembebasan Premi jika Istri  atau Suami Nasabah mengalami musibah Meninggal Dunia atau Cacat Tetap Total atau Penyakit Kritis atau jenis Manfaat lain.
Santunan Patah Tulang; Nasabah akan mendapatkan Santunan Dana Pengobatan jika mengalami cedera yang berakibat Tulangnya patah.
Santunan Perawatan Jangka Panjang; Nasabah akan mendapatkan Santunan Dana Perawatan jika Nasabah Tidak Mampu Lagi untuk melakukan beberapa kegiatan Utama yang dibutuhkan dalam menjalankan kehidupannya, seperti misalnya Tidak Bisa Makan Sendiri,  Tidak Mampu Melakukan Aktivitas Toilet atau Kamar Mandi Sendiri, Tidak Mampu Bergerak dan lain-lain.
Pada Era Moderen lahirlah Produk Unit Link yang merupakan perkembangan dari Asuransi Dwi Guna. Manfaat dari produk ini menyerupai produk Dwi Guna yaitu menerima Santunan Musibah jika menderita atau mengalami Musibah selama periode kontrak masih berlangsung.  Selain itu Manfaat Akumulasi Setoran atau Akumulasi Tabungan dapat ditarik kapanpun diinginkan dengan mendapatkan bunga investasi  sesuai dengan instrumen investasi yang dipilih oleh nasabah. Tentunya tingkat bunga investasi tergantung kepada kondisi ekonomi  yang terjadi sehingga Perusahaan Asuransi tidak mempunyai Tanggung jawab atas perkembangan investasi dana nasabah yang terjadi.  Sedangkan untuk jenis produk Tradisional seperti Dwi Guna maka Perusahaan Asuransi Bertanggungjawab untuk membayarkan Nilai Manfaat  Akhir Kontrak sesuai kesepakatan di awal perjanjian, yang tertera di dalam kontrak atau polis. Perbedaan lainnya adalah Unit Link mempunyai fleksibilitas misalnya Nasabah diperbolehkan menambah atau mengurangi atau cuti membayar Setoran Tabungan, meningkatkan atau menambah atau mengurangi jenis Santunan, merubah instrumen investasi dan lain-lain. Selain itu maka Unit Link juga memiliki perbedaan dengan Dwi Guna karena Setoran Tabungan Nasabah dijadikan Unit Penyertaan dengan memperhitungkan harga Unit saat terjadi transaksi baik transaksi Setoran atau transaksi Tambahan Setoran. Sedangkan jika terjadi transaksi Penarikan Setoran maka Jumlah Unit yang dimiliki akan dinilai dengan Harga Unit pada saat transaksi dilakukan.
Ada juga Produk yang serupa dengan Unit Link tetapi Setoran Tabungan nasabah tidak dijadikan dalam bentuk Unit. Produk ini biasa  disebut sebagai Universal Life atau Variable Life, tergantung kepada Pilihan Instrumen Investasi yang diberikan.
Untuk memenuhi keinginan pasar maka jenis-jenis produk atau santunan tersebut di atas dapat dimodifikasi baik itu fiturnya maupun Administrasi Pembayaran Manfaatnya. Misalnya Asuransi Seumur Hidup yang preminya dibayarkan terbatas hanya beberapa tahun saja.  Atau Asuransi Dwi Guna yang pembayarannya dilakukan Bertahap dengan mengkaitkannya dengan Skema Pendidikan sehingga disebut sebagai Asuransi Pendidikan atau Beasiswa. Atau Asuransi Dwi Guna yang jangka waktu Kontrak disesuaikan dengan usia Pensiun Normal sehingga disebut sebagai Dana Pensiun. Atau juga usia masuk Nasabah diberikan kepada Usia Anak-anak sehingga disebut Asuransi Anak.  Atau kebalikannya yaitu usia masuk Nasabah hanya diperbolehkan untuk usia tua misanya di atas 50 tahun maka disebut sebagai  Asuransi Orang Tua. Masih banyak modifikasi yang dapat dilakukan tergantung kepada kreatifitas Tim Pemasaran dan Tim Aktuaria yang ada di perusahaan Asuransi tersebut.
Saat ini ada juga Produk Asuransi yang berbasiskan Syariah. Sesuai dengan namanya maka produk ini wajib mengikuti kaidah-kaidah dan hukum-hukum Syariah. Jenis produk ini juga mempunyai aneka ragam manfaat dan fitur yang serupa dengan produk-produk di atas tapi dalam koridor hukum dan kaidah Syariah.
Melihat banyaknya variasi dari Jenis Produk Asuransi Jiwa yang dibedakan berdasarkan fitur, manfaat dan ketentuannya maka kita harus dapat melihat dan menetapkan – produk mana yang cocok dengan kebutuhan, kemampuan dan kondisi saya beserta keluarga. Untuk membahas lebih lanjut mengenai memilih dan menetapkan produk asuransi apa yang cocok dengan karakteristik dan profile setiap keluarga maka akan kita kupas lebih dalam pada tulisan mendatang.
Posted by risza bambang
Category: Pengetahuan Dasar
Tags: asuransi, Dunia, Jiwa, kematian, Manfaat, Meninggal, Nasabah, Produk, Santunan

Leave a Comment
Your Name (required):
Your Email (required):
Your Comment (required):
Submit Comment

« Perlukah beli asuransi? (2) | Produk asuransi apa yang cocok buat saya? (2) »


http://riszabambang.blog.kontan.co.id/2011/#http://riszabambang.blog.kontan.co.id/2011/04/29/produk-asuransi-apa-yang-cocok-buat-saya-1/
------------------------------------------------------

May 13, 2011
Produk asuransi apa yang cocok buat saya? (2)

Jika pada artikel terdahulu kita membahas mengenai Jenis-jenis Santunan Produk Asuransi Jiwa. Maka pada kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai Bagaimana Memilih dan Menetapkan Produk Asuransi yang sesuai dengan Kebutuhan, Kemampuan Finansial dan berdasarkan Kondisi pada saat Kebutuhan terjadi untuk setiap Keluarga. Oleh karena itu kita perlu untuk mengenal terlebih dahulu mengenal arti dan cakupan dari Risiko Kehidupan.
Apa definisi dari Risiko Kehidupan dan apa saja ruang lingkup dari Risiko ini?
Risiko Kehidupan adalah suatu Risiko yang pasti terjadi dalam kehidupan seseorang Manusia, risiko ini mendatangi kita secara tiba-tiba dan dari luar atau bukan dari sesuatu yang kita kehendaki. Salah satu atau kombinasi dari risiko ini pasti terjadi dalam kehidupan kita,  yang kita tidak tahu adalah kapan waktu terjadinya.
Cakupan dari risiko ini adalah :
Hidup Terlalu Singkat; Ada Pepatah yang mengatakan bahwa Kelahiran, Jodoh dan Kematian ada di tangan Tuhan. Disini Manusia hanya bisa berupaya, tetapi akhirnya Tuhan lah yang menentukan Kejadian dan Peristiwanya. Jenis Risiko ini berhubungan dengan Jangka Waktu dari Kehidupan kita yang lebih singkat dibandingkan dengan jangka waktu normal yang terjadi pada orang-orang kebanyakan. Atau dengan kata lain maka Usia kita lebih pendek dari rata-rata usia orang normal. Dalam ilmu Aktuaria dikenal istilah Rasio Life Expectancy atau Usia Harapan Hidup. Artinya adalah Rata-rata Usia seorang manusia dalam menjalani kehidupannya sampai Malaikat Maut mencabut nyawanya. Di Indonesia maka Tingkat Usia Harapan Hidup adalah 70,7 tahun, sedangkan di negara maju seperti Jepang adalah 82,6 tahun, di Inggris 79,4 tahun. Rasio ini sangat bergantung kepada Gaya Hidup, Pendidikan, Ekonomi, Sosial, Budaya, Perdagangan, Perindustrian yang terjadi di suatu negara, semakin tinggi nilai faktor-faktor tersebut maka semakin tinggi Usia Harapan Hidupnya. Oleh karena itu Hidup Terlalu Singkat bermakna bahwa Orang tersebut mempunyai Umur yang Pendek atau Meninggal Dunia lebih cepat dari kebanyakan orang lain atau Hidupnya lebih pendek dibandingkan kehidupan normal yang berlaku.
Hidup Terlalu Lama; Risiko ini berbanding terbalik dengan risiko kehidupan yang pertama. Pada jenis ini maka Seseorang mempunyai Usia yang lebih panjang dibandingkan orang-orang kebanyakan. Banyak orang tidak pernah menyangka bahwa ini adalah suatu risiko. Memang risiko ini barulah dirasakan pahit jika kita tidak mengantisipasi Dampak Kerugian Finansial yang terjadi. Dampak terberat dari jenis ini adalah Dana Pensiun yang harus disediakan untuk menikmati Hari Tua seseorang. Dana tersebut diperlukan untuk membiayai Biaya Hidup Rumah Tangga termasuk atas Biaya Kesehatan yang harus disediakan untuk membayar ongkos-ongkos Kesehatan seperti misalnya Rawat Inap, Rawat Jalan, Dokter Gigi, Kaca Mata, Pengobatan, dan lain-lain baik Preventif, Kuratif maupun Rehabilitatif. Yang menarik adalah setiap orang tidak pernah lupa untuk memohon Umur Panjang pada saat Hari Ulang Tahunnya tetapi seringkali lupa memohon juga untuk diberikan rezeki untuk menopang Umur Panjangnya.
Sakit dan kecelakaan; Risiko ini seringkali terjadi secara berulang-ulang dalam kehidupan seorang manusia. Oleh karena itu kita harus mengelola risiko ini dengan baik sehingga dampak kerugian finansialnya tidak membebani Kondisi Keuangan, serta musibah tersebut tidak terjadi secara berulang.
Selain kita mengetahui mengenai Risiko Kehidupan maka kita juga harus mengetahui tentang Siklus Kehidupan atau Life Cycle. Siklus ini terjadi sejak Manusia dilahirkan sampai dengan Dipanggil Tuhan. Dalam Siklus ini Setiap orang akan menjalani Tahapan Kehidupan sesuai dengan bertambahnya Usia dan juga Perubahan Kondisi Kehidupannya.
Misalnya pada :
Tahap Awal maka secara normal seseorang akan menjalani lahir, perkembangan bayi hingga jadi anak kecil, sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar, remaja, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, dan kemudian kuliah.
Tahap Selanjutnya adalah Bekerja untuk mendapatkan Penghasilan dan mengaplikasikan pendidikannya, dan karirnya terus berkembang sesuai dengan Kinerja dan Perilakunya, lalu akhirnya menemukan Jodohnya dan Menikah.
Tahap Kemudian adalah Tetap melanjutkan karir kerjanya baik di tempat semula atau kantor baru, mempunyai keturunan atau anak sehingga menambah pengalaman hidupnya untuk membesarkan dan mendidik Anak-anaknya sampai mereka dewasa atau paling tidak sampai anak-anaknya menyelesaikan jenjang kuliahnya.
Tahap Berikutnya adalah Tahap Keemasan dalam Berkarir dan juga kematangan Berkeluarga. Tahap ini diakhiri dengan periode memasuki Usia Pensiun dimana Seseorang harus kehilangan Sumber Pendapatannya. Namun demikian Sumber Pendapatan saat produktif bekerja bisa diganti dengan Dana Pensiun untuk terus menyambung dan melanjutkan Kehidupan Hari Tuanya. Pada tahap ini atau mungkin sebelumnya maka masih ada tanggung jawab dari Orang Tua untuk menikahkan Anaknya baik secara Agama, Biaya, Negara dan lain-lain.
Tahap Pensiun atau Menjalani hari Tua – Periode dimana seseorang harus menjalani hari Tuanya setelah Pensiun bekerja. Batas usia Pensiun di Indonesia berkisar antara 55 atau 56, walaupun bisa diperpanjang sesuai kebutuhan. Jika seseorang tetap bertahan hidup sampai dengan usia rata-rata rasio harapan hidup misalnya 75 tahun maka hari tuanya sepanjang 20 tahun.  Padahal periode Masa Produktif seseorang hanya berlangsung selama +/- 30 tahun, dari usia pensiun 55 tahun dikurangi usia masuk kerja misalnya 25 tahun. Dengan kata lain maka Periode Hari Tua sebesar 2/3 dari Periode Bekerja tapi dengan Tanpa Pendapatan seperti saat masih Bekerja. Dan Biaya Kesehatan semakin tinggi karena risiko Kesehatan juga semakin buruk dan Biaya Pengobatan, Dokter, Rumah Sakit dan lain-lain juga semakin tinggi.
Tahap Terakhir adalah tahap yang tidak populer atau tidak disukai oleh hampir semua orang tetapi harus terjadi dalam kehidupan seseorang. Risiko yang terjadi pada tahap ini adalah Kematian, sesuatu yang pasti terjadi tetapi tidak bisa diprediksi dengan tepat waktunya.
Setiap Tahapan dalam Siklus Kehidupan mempunyai Kebutuhan Asuransi atau Proteksi yang berbeda. Perbedaan ini bisa berupa Jenis Produknya, Nilai Uang Pertanggungan atau Santunan Asuransinya, Nilai Premi yang dibayarkan, Periode Jangka Waktu Kontrak, Cara Pembayaran Premi, Siapa Tertanggung dan siapa Penerima Manfaat atau Ahli Warisnya dan lain-lain sesuai Kebutuhan, kemampuan finansial dan Kondisi keluarga saat kebutuhan tersebut diharapkan terjadi.
Contoh Kebutuhan Asuransi pada setiap Tahapan dari Siklus Kehidupan adalah sebagai berikut :
Tahap Awal – Kebutuhan Asuransi bukan pada orang bersangkutan tapi justru pada Orang Tuanya, khususnya Orang Tua (Ayah atau Ibu) yang menjadi Penanggung Biaya Kehidupan bagi orang tersebut. Namun bisa juga beli Asuransi dengan Orang tersebut jadi Tertanggung, dan Orang Tua yang membayarkan Premi sebagai Pemengang Polis sekaligus Pembayar Premi. Jenis Produk bisa Kesehatan atau Whole Life dengan Pembayaran Premi Terbatas hanya beberapa Tahun saja atau Seumur Hidup. Dengan membeli asuransi sejak dini maka Tingkat Risikonya lebih kecil dari pada jika membeli setelah berusia lebih tua, ini membuat Premi akan jauh lebih murah. Selain itu juga Proses Seleksi Penerimaannya akanlebih mudah dibandingkan jika sudah berusia lebih tua. Hal ini direkomendasikan bagi seseorang yang mempunyai Riwayat Keturunan Penyakit Mematikan seperti Jantung, Hipertensi, Diabetes dan Penyakit Genetis lainnya, atau seseorang yang Gaya Hidup Keluarganya berisiko tinggi seperti gemar makanan Fast Food atau Berlemak atau Jarang Olah Raga dan lain-lain.
Tahap Masa Kerja sampai Berumah Tangga – Kebutuhan Asuransi bisa dilakukan dengan melanjutkan Polis Anak-anak yang sudah ada tetapi dengan menambah jenis Santunan Proteksinya (contoh Penyakit Kritis, Kecelakaan, Cacat Tetap Total dan lain-lain), juga mengganti Penanggungjawab pembayar Premi dari Orang Tua kepada dirinya sendiri sekaligus menjadi Pemegang Polis. Jenis Produk Asuransi juga bisa ditambahkan jenis Dwi Guna atau Unit Link atau Universal atau Variable Life untuk keperluan Biaya Menikah, Dana Pensiun, Beli Kendaraan, Beli Rumah dan lain-lain, namun sebaiknya untuk Investasi dilakukan terpisah dengan Proteksi. Namun demi kepentingan Disiplin Menyisihkan Uang dan Alasan Kepraktisan dan Alasan Kesibukan serta Ketidakmengertian Ilmu Investasi maka pemilihan produk tersebut masih bisa diberikan toleransi. Walaupun Penulis tetap merekomendasikan untuk memisahkan antara Asuransi dengan Investasi, demi untuk memperoleh hasil yang optimal baik dari segi Nilai Santunan Proteksi maupun Nilai Pengembalian Investasinya.
Tahap Masa Awal Berkeluarga – Sejak Menikah maka Nilai Santunan Musibah sebaiknya disesuaikan dengan Penambahan Biaya Rumah tangga akibat kehadiran Pasangan Hidup. Selain itu juga diperlukan untuk mempertimbangkan Tambahan Jenis Santunan Pasangan Hidup. Dan sejak Kelahiran Anaknya maka dibutuhkan tambahan Asuransi Pendidikan atau BeaSiswa Anak. Dan juga melakukan Tinjau Ulang kembali untuk Nilai Santunan Musibahnya serta Metode Pembayaran Preminya agar tidak membebani Total Biaya Pengeluaran Keluarga. Mengingat periode mencapai usia pensiun sudah semakin pendek maka diperlukan juga pertimbangan untuk Melakukan Review Nilai Setoran Dana Pensiun disesuaikan dengan Peningkatan Pendapatan dan Tingginya Inflasi yang berakibat pada Kenaikan Harga-harga barang. Jangan dilupakan adalah faktor Tambahan Nilai Santunan dan Nilai Dana Pensiun yang diberikan oleh Perusahaan Tempat Bekerja dan Pemerintah.
Tahap Masa Keemasan Kehidupan – Jangka Waktu yang paling berkesan karena Karir sedang berada di puncak dan juga kondisi berkeluarga. Di tahap ini sering terjadi menerima Bonus atau Rejeki yang cukup besar sehingga mempunyai banyak godaan untuk melakukan Gaya Hidup Konsumtif yang tidak perlu. Disinilah saat untuk fokus berinvestasi tapi jangan lupa untuk melakukan Perlindungan Asuransinya. Jika sudah tidak ada kewajiban Biaya untuk Pendidikan Anak maka Anggarannya bisa dialihkan ke Dana Pensiun. Jika memang kita memiliki Penghasilan yang besar dan memiliki selisih positif yang cukup besar dengan Total Pengeluaran maka ini bisa dipakai untuk tambahan Setoran Dana Pensiun dan Investasi. Begitu juga jika menerima Rejeki atau Bonus Tambahan maka bisa ditambahkan ke Dana Pensiun atau Tambahan Portofolio Investasi yang dimiliki. Perlu dipertimbangkan juga untuk menambahkan Santunan Perawatan Jangka Panjang atau Long Term Care serta Santunan Patah Tulang atau Broken Bone untuk berjaga-jaga jika musibah tersebut menyerang kita.
Tahap Periode Hari Tua – Saat untuk menikmati Hari Tua dengan menggunakan Dana Pensiun dan Hasil Pengembalian Investasi yang dilakukan saat masih bekerja. Jika kita melakukan Investasi dengan benar dan maksimal maka diharapkan bisa memperoleh Pasif Income yang bisa menggantikan 75% Biaya Rumah Tangga yang biasanya dibelanjakan, tentunya dengan memasukkan faktor inflasi atas harga-harga barang. Nama Penerima Manfaat Asuransi bisa dirubah sesuai dengan Kondisi Keluarga. Proporsi Istri sebagai Penerima Santunan bisa lebih ditingkatkan karena Anak-anak sudah Mandiri dan bisa menghidupi Keluarganya sendiri. Atau bisa juga mengganti Penerima Manfaat dengan memberikannya kepada Rumah-rumah Ibadah atau Yayasan Kemanusiaan atau Yayasan untuk Pendidikan dan Kesehatan Anak-anak.
Tahap Kematian – Siklus Kehidupan berakhir.
Seperti dijelaskan sebelumnya maka Kita juga harus mengetahui Bagaimana Kondisi Finansial kita untuk mengetahui Kemampuan Finansial untuk membeli Asuransi, baik menetapkan Nilai Santunan (baik Musibah, Bea Siswa atau Pensiun), Jenis Santunan yang sebaiknya dimiliki, Cara Pembayaran dan Mata Uang Polis Asuransi. Selain itu juga diperlukan Informasi atau Data Aktual dari Usia Anak, Usia Kita, Kapan Dana Pendidikan harus diberikan, Kapan Dana Pensiun diperlukan, Berapa Lama Periode Asuransi dan sebagainya. Dengan seluruh Informasi dari Kebutuhan, Kemampuan Finansial dan juga Karakteristik Kondisi Keluarga maka Kita bisa membuat Perencanaan Asuransi dengan tepat sehingga bisa menjadi suatu Alat Pelindung Kebutuhan atau Hedging untuk Tujuan Kebutuhan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas maka kita akan membahasnya lebih lanjut pada artikel mendatang.
Posted by risza bambang
Category: Pengetahuan Dasar, Uncategorized
Tags: asuransi, Hidup, Kehidupan, proteksi, risiko, Santunan, Siklus

Leave a Comment
Your Name (required):
Your Email (required):
Your Comment (required):
Submit Comment


Type the two words:



1 Comment to “Produk asuransi apa yang cocok buat saya? (2)”

Ranti
June 8, 2011
Salam kenal Pak Rizsa.
Suami saya sdh membeli asuransi jiwa termlife serta as. kesehatan utk sekeluarga. Kami juga memisahkan antara asuransi dan investasi. Saya membaca di sebuah twitter ada asuransi jiwa yg di lengkapi manfaat tambahan berupa bebas bayar premi jika terkena sakit kritis atau cacat tetap. Apakah yang di maksud dlm hal ini? Apakah preminya tidak mahal?
Terima kasih banyak, Ranti.
Reply
« Produk asuransi apa yang cocok buat saya? (1) |


http://riszabambang.blog.kontan.co.id/2011/05/13/produk-asuransi-apa-yang-cocok-buat-saya-2/

Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini

Mempersiapkan Biaya Pendidikan Sejak Dini

Pendidikan adalah salah satu bekal paling penting bagi anak. Masalahnya, biaya pendidikan di Indonesia kian mahal. Untuk itu, orang tua sebaiknya mempersiapkan biaya pendidikan anak sejak dini agar bisa memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Bagaimana pun hingga saat ini masih diyakini bahwa tingginya pendidikan seseorang menjadi salah satu tolok ukur dalam pencapaian jenjang karier.
Berdasarkan survei KONTAN 18 Mei-24 Mei 2011 terhadap 250 responden yang sudah menikah, mayoritas (69,2%) sudah mempersiapkan dana pendidikan anaknya hingga sarjana strata 1 (S1).
Untuk biaya pendidikan anak hingga lulus S1, mayoritas responden (22,4%) menyiapkan Rp 200 juta-300 juta. Lalu 18,8% menargetkan Rp 100 juta-Rp 200 juta. Responden yang berencana menyekolahkan anaknya di luar negeri, menyiapkan dana di atas Rp 1 miliar (2% responden).
Mayoritas responden yang belum mempersiapkan biaya pendidikan anak akan membiayainya dari tabungan (bukan tabungan pendidikan). Yang menarik, 13% responden hingga kini belum tahu dari mana sumber dananya.
Kisaran biaya pendidikan anak hingga Rp 400 juta tersebut tentu saja untuk pilihan sekolah di dalam negeri. Lain cerita kalau ingin menyekolahkan anak di luar negeri. Biaya yang diperlukan untuk studi dan cost of living berkisar sekitar Rp 500 juta per tahun. Artinya kalau seorang anak menyelesaikan pendidikannya 4 tahun, maka biaya yang diperlukan kurang lebih sekitar Rp 2 miliar. Pada survey KONTAN kali ini, ada 2,5% responden yang memperkirakan kalau biaya sekolah anaknya di atas Rp 1 miliar.
Walaupun biaya menyekolahkan anak tersebut tidak murah, tapi 69% responden ternyata sudah mempersiapkannya sejak jauh hari. Sebanyak 39,6% (99 responden) responden menyiapkan dana pendidikannya dalam bentuk asuransi pendidikan dan 28,8% (72 responden) dalam bentuk tabungan pendidikan. Sisanya, para responden menyiapkan dana itu dalam investasi di emas (7,2% atau 18 responden), properti (6% atau 15 responden), reksadana (5,2% atau 13 responden), dan lain-lain (9 responden).
Lalu, bagaimana bagi responden belum mempersiapkannya? Sebanyak 14,4% responden ternyata sudah mencoba menyisihkan uangnya dalam bentuk tabungan umum, dan 5,2% berencana untuk mengikuti program asuransi pendidikan. Sedangkan 4% responden menyatakan belum tahu dari mana sumber biayanya nanti. Beberapa responden (2,8%) berharap bisa mendapatkan pinjaman dari kantor untuk alternatif sumber dananya.
Besarnya perkiraan biaya pendidikan ini berlaku untuk saat ini, bagaimana kalau 10 tahun ke depan? Andai saja kenaikannya dihitung 10% per tahun. Ya, tinggal dikalikan saja. Lalu bagaimana dengan Anda? Sejauh mana persiapannya?
Grafik 1 : Anda Sudah Menyiapkan Dana Pendidikan Anak Sampai Lulus S1?

Grafik 2 : Persiapan Dana Pendidikan Anak

Grafik 3 : Bagaimana Kalau Belum Menyiapkan Dananya?

Grafik 4 : Target Biaya Pendidikan Anak dari SD Hingga Lulus S1

Grafik 5 : Berdasarkan Gender

Grafik 6 : Usia Responden

Grafik 7 : Pengeluaran Keluarga



TIM RISET : KONTAN



http://www.kontan.co.id/survei/read/9mempersiapkan-biaya-pendidikan-sejak-dini

70 Kata-kata Bijak dari Tokoh Terkenal

70 Kata-kata Bijak dari Tokoh Terkenal
User Rating: / 4
PoorBest 
Marah itu gampang Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit (Aristoteles)
Kesakitan membuat Anda berpikir Pikiran membuat Anda bijaksana Kebijaksanaan membuat kita bisa bertahan dalam hidup (John Pattrick)
Jangan pernah melupakan apa pun yang dikatakan seseorang ketika ia marah, karena akan seperti itu pulalah perlakuannya pada Anda (Henry Ward Beecher)
Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat (Winston Chuchill)
Bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan (Goethe)
Secara teoritis saya meyakini hidup harus dinikmati, tapi kenyataannya justru sebaliknya – Karena tak semuanya mudah dinikmati (Charles Lamb)
Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur (Richard Wheeler)
Bila Anda ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga, serta mengilhami harapan Anda, (Andrew Carnegie) 
Kita hanya berfikir ketika kita terbentur pada suatu masalah (John Dewey)
Kesalahan orang lain terletak pada mata kita, tetapi kesalahan kita sendiri terletak di punggung kita (Ruchert)
Yang baik bagi orang lain adalah selalu yang betul-betul membahagiakannya (Aristoteles)
Semua yang riil bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat riil (Hegel)
Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu (Petrus Claver)
Lebih baik bertempur dan kalah daripada tidak pernah bertempur sama sekali (Arthur Hugh Clough)
Hidup adalah lelucon yang baru saja dimulai (W S Gilbert)
Orang yang bisa menggunakan dan menyimpan uang adalah orang yang paling bahagia, karena ia memiliki kedua kesenangan (Samuel Johnson)
Kebijaksanaan tidak pernah berbohong (Homer)
Tuhan sering mengunjungi kita, tetapi kebanyakan kita sedang tidak ada di rumah (Joseph Roux)
Seorang pendengar yang baik mencoba memahami sepenuhnya apa yang dikatakan orang lain Pada akhirnya mungkin saja ia sangat tidak setuju, tetapi sebelum ia tidak setuju, ia ingin tahu dulu dengan tepat apa yang tidak disetujuinya (Kenneth A Wells)
Seorang pria sudah setengah jatuh cinta kepada wanita yang mau mendengarkan omongannya dengan penuh perhatian (Brenden Francis)
Kebahagian hidup yang sebenarnya adalah hidup dengan rendah hati (W M Thancheray)
3×25 Watt ≠ 75 Watt Sebuah bola lampu berukuran 75 watt kelihatan bersinar lebih terang dibandingkan dengan tiga buah bola lampu 25 Watt yang dinyalakan bersamaan 
Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan (Hitopadesa)
Bila orang mulai dengan kepastian, dia akan berakhir dengan keraguan Jika orang mulai dengan keraguan, dia akan berakhir dengan kepastian (Francis Bacon)
Cuma sedikit orang yang menginginkan kebebasan, kebanyakan hanya menginginkan seorang tuan yang adil (Gaius Sallatus Crispus)
Tak diinginkan, tak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan orang, itu merupakan derita kelaparan yang hebat, kemiskinan yang lebih besar daripada orang yang tak bisa makan Kita harus saling merasakan hal itu (Ibu Teresa)
Pengalaman bukan saja yang telah terjadi pada diri Anda Melainkan apa yang Anda lakukan dengan kejadian yang Anda alami (Aldous Huxley)
Dunia adalah komedi bagi mereka yan memikirkannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya (Harace Walpole)
Saya percaya kata managing berarti memegang burung dara di kepalan tangan Kalau terlalu kencang ia akan mati Tapi bila terlalu kendur, bisa terlepas  (Tommy Lasorda)
Sejarah manusia merupakan tanah pemakaman dari kebudayaan-kebudayaan yang tinggi, yang rontok karena mereka tidak mampu melakukan reaksi sukarela yang terencana dan rasional untuk menghadapi tantangan. (Erich Fromm) 
Kemajuan merupakan kata yang merdu Tetapi perubahanlah penggeraknya dan perubahan mempunyai banyak musuh (Robert F Kennedy)
Kita mengajarkan disiplin untuk giat, untuk bekerja, untuk kebaikan, bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut (Maria Montessori)
Tugas dan pendidikan ialah mengusahakan agar anak tidak mempunyai anggapan keliru bahwa kebaikan sama dengan bersikap loyo dan kejahatan sama dengan bersikap giat (Maria Montessori)
Kemampuan menertibkan keinginan merupakan latar belakang dari watak (John Locke 1632-1704)
Kebahagian dari setiap negara lebih bergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahannya (Thomas Chandler Haliburton 1796-1865)
Menyikat lantai dan mencuci pispot sama mulianya seperti menjadi presiden (Richard M Nixon)
Jangan pernah membanting pintu, siapa tau kita harus kembali (Don Herold)
Diplomat ialah orang yang selalu ingat pada ulang tahun seorang wanita tetapi tidak pernah ingat berapa umur wanita itu (Robert Frost)
Orang yang paling tidak bahagia ialah mereka yang yang paling takut pada perubahan (Mignon McLaughlin)
Kalau manusia berangsur menjadi tua, umumnya ia cendrung menetang perubahan, terutama perubahan ke arah perbaikan (John Steinbeck)
Selama hidup saya yang sudah 87 tahun ini, saya telah menyaksikan serentetan revolusi teknologi Tetapi tidak satu pun diantaranya yang tidak membutuhkan watak yang baik atau kemampuan untuk berfikir (Bernard M Baruch)
Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis (Aristoteles)
Pendidikan mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menciptakannya (Voltaire)
Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik (Fonttenelle)
Setelah makan, pendidikan merupakan kebutuhan utama rakyat (Danton)
Kerendahan hati disukai orang-orang terkenal Namun orang yang bukan apa-apa sulit untuk rendah hati (Paul Valěry)
Emansipasi merupakan seni untuk berdiri di atas kaki sendiri namun dipeluk tangan orang lain (Alex Winter)
Sebelum menikah saya mempunyai enam teori tentang bagaimana mendidik anak Kini saya mempunyai enam anak dan tidak mempunyai teori (John Wilmot, Earl of Rochester 1647-1680)
Kebahagiaan itu seperti batu arang, ia diperoleh sebagai produk sampingan dalam proses pembuatan sesuatu (Aldous Huxley)
Dari pesawat terbang yang saya cintai, saya melihat ilmu pengetahuan yang saya puja memusnahkan kebudayaan, padahal saya mengharapkan mereka dimanfaatkan untuk kebudayaan (Charles A Lindbergh, Jr )
Harapan adalah tiang yang menyangga dunia (Pliny the Elder)
Alat penghemat kerja yang paling populer sampai saat ini masih tetap suami yang berada (Joey Adams)
Seorang arkeolog merupakan suami yang terbaik yang bisa diperoleh wanita; makin tua si istri, makin besar minat suami terhadapnya (Agatha Cristie)
Saya lebih suka lamunan untuk masa akan datang daripada sejarah masa lalu (Thomas Jefferson 1743-1826)
Jangan memberi nasehat kalau tidak diminta (Erasmus)
Manusia mudah dibohongi oleh orang yang dicintainya (Molire)
Sebelum menulis, belajarlah berpikir dulu (Boileau)
Orang yang berjiwa cukupan, merasa bisa menulis dengan hebat Orang yang berjiwa besar merasa bisa menulis cukupan (La Bruyère)
Kemenangan yang paling indah adalah bisa menaklukkan hati sendiri (La Fontaine)
Tidak ada yang selembut dan sekeras hati (G C Lichtenberg)
Lebih baik mengerti sedikit daripada salah mengerti (A France)
Orang memerlukan dua tahun untuk berbicara, tetapi limapuluh tahun untuk belajar tutup mulut (Ernest Hemingway)
Penulis buku jarang intelektual Intelektual ialah mereka yan berbicara tentang buku yang ditulis orang lain (Françoise Sagan)
Orang yang mencemarkan udara dengan pabriknya dan anak ghetto yang memecahkan kaca etalase toko menunjukkan hal yang sama Mereka tidak peduli pada orang lain (Dhaniel Patrick Moynihan)
Mereka yang bermimpi di siang hari akan lebih menyadari bahaya yang luput dari penglihatan mereka yang mimpi di malam hari (Edgar Allen Poe)
”Mulai” adalah kata yang penuh kekuatan Cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah, “mulai” Tapi juga mengherankan, pekerjaan apa yang dapat kita selesaikan kalau kita hanya memulainya (Clifford Warren)
Saya tak hanya menggunakan semua kecerdasan yang dimiliki otak melainkan juga yang dapat saya pinjam (Woodrow Wilson)
Yang kalah adalah wujud hukuman atas kegagalan Pemenang adalah penghargaan atas kesuksesannya (Bob Gilbert)
Bila Anda mengatakan apa yang Anda pikirkan, jangan harap hanya mendengar apa yang Anda sukai (Malcom S Forbes)
Kesulitan itu ibarat seorang bayi Hanya bisa berkembang dengan cara merawatnya (Douglas Jerrold)
 

 
http://infoasuransi.net/bijaksana/127-70-kata-kata-bijak-dari-tokoh-terkenal.html
 

Mengapa Harus Menabung Sedini Mungkin

Banyak di antara kita yang tidak terlalu peduli terhadap rencana keuangan di masa pensiun. Padahal masa pensiun adalah sesuatu yang hampir pasti terjadi suatu saat kelak. Oleh karena itu, menyiapkan rencana keuangan di masa pensiun adalah tindakan yang sangat bijaksana.

 

Diasumsikan bahwa usia pensiun adalah 65 tahun. Pasa saat pensiun nanti, kita ingin berhasil mengumpulkan dana untuk membiayai masa pensiun sebesar Rp 1 miliar. Berikut ilustrasi dana yang harus kita persiapkan dengan asumsi hasil investasi yang terjadi sebesar 5 %, 10 % dan 15 % [sudah bebas pajak dan telah mempertimbangkan tingkat inflasi]:

Usia 20 tahun:
5 % = 521,811
10 % = 115,917
15 % = 23,244

Usia 30 tahun:
5 % = 922,642
10 % = 307,475
15 % = 94,571

Usia 35 tahun:
5 % = 1,254,286
10 % = 506,604
15 % = 191,683

Usia 40 tahun:
5 % = 1,746,038
10 % = 847,339
15 % = 391,617

Usia 50 tahun:
5 % = 3,861,857
10 % = 2,622,815
15 % = 1,751,421

Usia 55 tahun:
5 % = 6,625,381
10 % = 5,228,783
15 % = 4,104,339

Usia 60 tahun:
5 % = 15,081,233
10 % = 13,649,790
15 % = 12,359,629

Jika saat ini kita berusia 30 tahun, dan menginvestasikan uang kita secara berkala [regular] di instrumen investasi yang menghasilkan hasil investasi sebesar 10 %, maka kita harus menyisihkan uang sebesar Rp 307,475 setiap bulan, agar kita dapat mewujudkan impian kita untuk dapat memiliki dana Rp 1 miliar pada saat usia kita mencapai 65 tahun. Jika kita beruntung mendapatkan hasil investasi sebesar 15 %, maka kita cukup menyisihkan Rp 94,571 setiap bulannya untuk dapat menghasilkan uang senilai Rp 1 miliar pada usia 65 tahun.

Semakin dini usia kita, maka akan semakin ringan bebang uang yang harus kita sisihkan untuk dapat mewujudkan impian kita.

Pada usia 20 tahun, kita hanya perlu menyisihkan uang sebesar Rp 521,811 setiap bulan untuk mendapatkan uang senilai Rp 1 miliar pada usia 65 tahun, jika kita menginvestasikan uang kita pada instrumen investasi dengan hasil investasi sebesar 5 %. Bandingkan dengan jika kita telah berusia 50 tahun. Dibutuhkan uang sebesar Rp 3,861,857 atau lebih dari tiga juta rupiah setiap bulan agar kita dapat mewujudkan impian kita untuk memperoleh uang senilai Rp 1 miliar pada saat usia kita telah mencapai 65 tahun. Padahal di usia-usia tersebut, kita juga sedang disibukkan dengan biaya kuliah anak-anak kita atau pun biaya pernikahan mereka.

Semakin dini usia kita saat mulai menabung, semakin ringan bebas uang atau dana yang harus kita sisihkan untuk dapat mewujudkan impian masa pensiun yang indah. Jadi, mulailah menabung sedini mungkin!




http://infoasuransi.net/dana-pensiun/98-mengapa-harus-menabung-sedini-mungkin.html?tmpl=component&print=1&layout=default&page=

9 Cara Paling Ampuh Menolak Tawaran Agen Asuransi !

9 Cara Paling Ampuh Menolak Tawaran Agen Asuransi !
User Rating: / 2
PoorBest 
Pernahkah Anda didatangi oleh agen asuransi? Atau saat ini malah dikejar-kejar Agen Asuransi. Apa yang ada di benak Anda saat itu? Apakah menurut Anda asuransi ada manfaatnya? Apa persepsi Anda tentang asuransi?. Cukup banyak tanggapan yang muncul, ada yang berkonotasi negatif tetapi ada juga yang positif.

Namun Bagi Anda yang ingin Menolak Asuransi berikut ada Tips Jitu Cara Menolak Asuransi :

1) Saya tidak punya uang untuk beli asuransi
Orang yang tidak mampu membeli asuransi sebenarnya justru orang yang lebih membutuhkan asuransi dibandingkan dengan orang yang mampu membelinya.

Jika anda tidak dapat membayar semua tagihan saat anda sehat dan dapat bekerja, bagaimana mungkin anda akan dapat membayarnya saat anda sakit dan tidak memiliki penghasilan? Asuransi adalah rekening AJAIB yang akan dapat mengurus pembayaran semua tagihan-tagihan lainnya jika anda menderita sakit kritis, cacat tetap, atau meninggal dunia.

Asuransi harus menjadi prioritas pertama, setelah kebutuhan pokok terpenuhi, untuk dibayarkan didalam rencana pengeluaran bulanan anda.

2) Saya masih punya cicilan kredit rumah
Ketika Anda memiliki kredit rumah, anda harus terus menerus membayar sejumlah besar uang selama 10 atau 15 tahun ke depan. Anda memang dapat memenuhi kewajiban tersebut, tapi apakah keluarga anda dapat membayarnya jika anda meninggal dunia atau mengalami cacat tetap sebelum cicilan kredit tersebut selesai? Marilah pastikan keluarga anda akan tetap tinggal di rumah yang indah, rumah yang telah anda berikan bagi mereka untuk selamanya.

3) Saya tidak butuh asuransi
Saya sangat setuju Anda tidak membutuhkannya. Apakah menurut Anda seorang yang menjadi cacat tetap karena suatu kejadian membutuhkan asuransi? Apakah orang yang baru saja terkena serangan jantung & harus mengeluarkan uang 150 juta untuk biaya operasi membutuhkannya ? Apakah orang yang meninggal dunia membutuhkannya ?

Ya ! mereka membutuhkannya tetapi tidak dapat membelinya pada saat itu.

Asuransi harus dibeli justru pada saat Anda tidak membutuhkannya. Karena pada saat Anda membutuhkannya, mungkin Anda sudah tidak dapat membelinya lagi. itulah Asuransi. Anda hanya dapat membeli asuransi ketika Anda sehat. Anda membeli asuransi dengan kesehatan Anda dan membayarnya dengan uang Anda. Jika Anda tidak lolos pemeriksaan kesehatan, maka Anda tidak akan dapat membeli asuransi walaupun Anda memiliki uang.

Inilah saat yang tepat bagi Anda untuk membeli asuransi.

4) Saya diskusikan dulu dengan istri saya
Jika Anda menanyakan kepada istri Anda apakah Anda perlu membeli asuransi jiwa, maka istri Anda pasti berpikir, "Jika saya meminta suami saya untuk membeli, mungkin suami saya akan mengira bahwa saya mengharapkan suami meninggal agar saya menjadi seorang janda kaya"

Namun jauh di dalam hati & pikirannya mungkin ia memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya dan anak-anaknya, jika suaminya meninggal dunia. Bagaimanapun juga Anda telah menempatkan istri Anda ke dalam keadaan yang sulit.

Asuransi adalah hadiah yang terbaik dan terindah yang Anda belikan untuk istri Anda. Anda tidak perlu berdiskusi dengannya. Anda dapat langsung membelinya. Setelah Anda menerima polisnya barulah Anda bawa polis tersebut & berkatakan padanya : "Kekasihku, sepanjang masa hidupku aku akan menjaga dan mencukupi segala kebutuhan kita, makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan anak kita. Tetapi jika suatu hari nanti saya meninggal dunia, maka polis inilah akan menjagamu serta mencukupi setiap kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan sama seperti yang sekarang saya sediakan. Sebesar inilah cintaku padamu dan pada keluarga kita" Itulah bukti sesungguhnya dari cinta Anda. Istri Anda akan semakin mencintai Anda.

5) Saya ingin membandingkan dengan Asuransi perusahaan lain
Ini adalah gagasan yang baik, tahukah Anda ada berapa puluh perusahaan asuransi jiwa di Indonesia dan jika Anda tidak membuat perbandingan dengan setiap perusahaan tersebut maka Anda tidak akan sungguh-sungguh tahu apakah Anda telah mendapatkan yang terbaik. Betulkah demikian ?

Ada satu kelemahannya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada diri Anda selama masa Anda membanding-bandingkan semua perusahaan ini ? Anda telah yakin bahwa Anda membutuhkan perlindungan. Sementara Anda akan melakukan perbandingan, bukankah sebaiknya Anda sudah dilindungi terlebih dahulu ?

Jadi sementara Anda membandingkan, Anda dapat menikmati perlindungan cuma-cuma dengan fasilitas "FREE LOOK" sehingga selama 2 minggu setelah menerima polis, Anda dapat membuat perbandingan dengan tenang.

6) Biarlah Tuhan yang menyediakan segalanya
Ya, Anda benar, saya sependapat dengan Anda. Dan kalau Anda sadar Tuhan yang telah mengirim saya untuk menolong Anda dan itu sebabnya saya ada di sini dan datang kepada Anda.

Tuhan yang memelihara kita dan menyediakan segala kebutuhan kita. Tuhan juga telah melengkapi kita dengan kepandaian & kebijaksanaan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Tetapi apakah Anda hanya tinggal diam di kamar tidur sepanjang hari? Tentu tidak kan..?

7) Anda terlalu memaksa, saya tidak mau membeli dari Anda
Jika Anda tidak ingin membelinya dari saya, tidak masalah. Jika saya terlalu mendesak Anda, saya mohon maaf. Tidaklah penting bahwa Anda membeli asuransi ini dari saya, tetapi saya mohon setelah Anda membaca ini, tolong segera angkat telpon Anda dan panggilah agen lain.

Saya mohon maaf sekali lagi kalau saya telah berbuat kesalahan, kadangkala saya tanpa sadar terlalu memaksa calon klien. Namun saya benar-benar tulus & jujur melakukannya.

Ketika anak saya menolak minum obat ketika dia sakit, saya akan memaksanya walaupun dia tidak suka. Demi kebaikan dia karena saya tahu bahwa setelah makan obat dia akan sembuh. Saya juga melakukan hal yang sama sekarang, saya memaksa Anda demi kebaikan Anda sendiri.

Apakah Anda pernah melihat dokter yang memaksa pasiennya untuk menjalani operasi ? Mereka percaya dan yakin pada apa yang mereka lakukan, demikian juga saya percaya & yakin pada apa yang saya lakukan. Saya percaya dengan tulus bahwa semua orang memerlukan asuransi.

8) Teman saya juga agen lho, aku akan ambil dari dia
Jikalau Anda memiliki teman baik yang juga menjadi agen asuransi jiwa, seharusnya saat ini Anda telah memiliki polis asuransi. Ketika ternyata Anda belum memiliki polis asuransi, maka orang tersebut bukanlah sahabat sejati Anda, tetapi sayalah teman Anda.

Yang namanya temen sejati adalah orang yang bisa bantu kita pada saat kita kesusahan. Kalo kita masuk rumah sakit, biasanya teman kita bawa buah, agen asuransi bawa duit. Saya ingin menjadi teman yang memaksa Anda untuk menandatangani surat pengajuan polis saat ini yang akan memberikan jaminan keamanan bagi keluarga Anda.

9) Asuransi bertentangan dengan agama saya
Sahabat netter, berapakah uang yang biasa Anda gunakan untuk kebutuhan makanan sehari-hari keluarga Anda ?

Jika Rp 50 ribu per hari atau setahunnya setara dengan Rp 50 ribu x 365 hari = Rp 18,5 juta rupiah. Dengan demikian, jika Anda membeli program asuransi senilai 200 juta rupiah, maka ini akan menyediakan cukup untuk makan keluarga Anda selama 10 tahun mendatang.

Apakah Tuhan akan menghukum Anda karena Anda telah menyediakan makanan untuk keluarga Anda jika Anda meninggal dunia atau cacat tetap ? Tidak ada agama yang menyatakan bahwa membeli asuransi jiwa itu bertentangan dengan agama.

Menurut agama Islam, dosa hukumnya jika Anda tidak menyediakan kebutuhan keluarga Anda walaupun Anda sedang tidak berada di sekitar mereka.

Ada seseorang sahabat yang mengatakan bahwa asuransi bertentangan dengan agamanya dan ia tidak ingin membeli polis apapun.

Ia menjalankan sebuah usaha. Setiap kali saya melakukan perjalanan ke luar kota, saya akan mampir ke rumah makan tersebut untuk minum teh dan makan, semabari beristirahat.

Suatu hari ketika saya mampir ke sana, saya melihatnya berjalan pincang saat melayani saya. Saya menanyakan apa yang terjadi. ia berkata bahwa baru 3 bulan sebelumnya ia menjalani operasi by pass jantung. saya menasihati dia agar beristirahat, namun ia mengatakan bahwa ia harus membuka usahanya selama 24 jam sehari untuk membayar hutang-hutangnya. ia terpaksa harus meminjam uang sebesar 150 juta rupiah kepada sanak saudaranya untuk biaya operasi tersebut.

Saya menanyakan di mana istrinya berada? Ia mengatakan bahwa istrinya sedang berjualan makanan di kantin sekolah agar mendapatkan uang tambahan untuk membayar pinjamannya.

Ia berkata bahwa ia menyesali keputusannya untuk tidak mengikuti program asuransi yang saya tawarkan pada saat sebelum semua hal tersebut terjadi. Jika ia membeli program asuransi tersebut ia tidak perlu membuka rumah makannya selama 24 jam dan menderita untuk melunasi hutangnya.

Ia mengatakan lagi bahwa Ia juga tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi dengan keluarganya jika ia meninggal dalam operasi. bagaimana cara keluarganya harus melunasi hutang-hutangnya. Orang inilah yang mengatakan kepada saya bahwa ia tidak tertarik untuk membeli asuransi, hanya karena hal itu bertentangan dengan agamanya.

Ia berkata "Saya telah menerima informasi yang salah yang mengatakan bahwa asuransi jiwa bertentangan dengan agama saya. sekarang saya merasa bahwa justru dengan saya tidak membeli asuransi jiwa itulah bertentangan dengan agama saya, karena saya telah membuat keluarga saya menderita dan membuat istri saya terpaksa harus mengemis pada keluarganya untuk membiayai operasi saya. saya telah membuat dia susah".

Jadi apapun alasan Anda .... Memiliki sebuah Polis Asuransi adalah Pilihan Cerdas.

"Memang benar dan saya yakin Anda telah mengatakan hal sebenarnya, Anda sering dikejar oleh agen-agen asuransi, tapi disaat yang sama apakah bapak bapak sadar kalo kematian juga sedang mengejar Anda?, begitu kematian mendapatkan anda tidak akan ada lagi agen yang akan mengejar Anda, kan lebih baik saya (Agen Asuransi) yang mendapatkan bapak terlebih dahulu sebelum kematian yang mendapatkan Anda"




http://infoasuransi.net/bijaksana/125-9-cara-paling-ampuh-menolak-tawaran-agen-asuransi-.html?tmpl=component&print=1&layout=default&page=
 

Waspadai Inflasi Biaya pendidikan Yang lebih mencapai 20% pertahun

Hai, Para Orang Tua yg bijak, dalam sebuah Artikel di Harian Kompas ditulis "Waspadai Biaya Pendidikan"  (klik untuk melihat selengkapnya). Realita  Biaya Pendidikan di Indonesia mulai tahun 2000 hingga Juli 2009 mengalami kenaikan kurang dari 200% (lihat gambar dibawah). Ini artinya setiap tahun kita mengalami kenaikan biaya pendidikan mendekati 20% adalah suatu angaka yang menakjubkan, Suatu angka yg mencengangkan kita semua.

Menurut Ligwina Hananto MBA, konsultan keuangan Quantum Magna Financial, biaya pendidikan rata-rata naik sekitar 20% per tahun. Belum lagi laju inflasi di Indonesia. “Inflasi untuk sekolah swasta di Indonesia sekitar 20% per tahun, dan 15% per tahun untuk universitas di Indonesia,” tambah Ligwina. Selengkapnya



Dengan kondisi demikian kita harus menyiapkan Tabungan Pendidikan yg bisa memberikan imbalan di atas 2digit pertahun atau di atas 10%. Pilihan terbaik saat ini adalah Tabungan Pendidikan yg berbasis investasi saham, yg msh bisa memberikan return di atas 20% bahkan lebih, sehingga bisa menutupi biaya inflasi pendidikan yg terjadi.

Menjawab permasalah dimuka, Sebagai Perusahaan Asuransi Global Assurance mengeluarkan Product Tabungan Pendidikan PREMIER EDUPLAN bekerjasama dengan Perusahaan Investasi International SCHRODER INDONESIA yang akan menyiapkan Dana Pendidikan untuk putra-putri tercinta sebagai ungkapan tali kasih dan penyambung generasi jenjang S2 semuanya GRATISS!!!.

Dengan menyetorkan dana pendidikan selama 10 Tahun maka tergantikan SELURUHNYA setelah 10 tahun kemudian. Nilai investasi yang terbentuk akan digunakan untuk biaya pendidikan, dan setelah selesai pendidikan dana masih dapat digunakan untuk pernikahan atau biaya membeli rumah.  Jadi tidak seperti kita dulu karena saya yakin banyak diantara kita terbuang dana, pemikiran dan waktu untuk mencicil rumah .... wuih ... suata keunggulan Kami

Investasi akan dijalankan oleh SCHRODER INDONESIA adalah perusahaan investasi International (http://www.schroders.com/indonesia/home/) yg terkenal dengan Product Dana Prestasi Plus yg sejak tahun 2001 hingga tahun 2009 telah memberikan hasil return total 356% atau rata-rata 39% per tahun

Selain Investasi Unit Link berbasis saham, juga menyediakan investasi Unit Link yg lebih stabil seperti SBI, Obligasi, valas dan investasi campuran. Sejak diluncurkan April 2009 hingga September 2010 Unit Link Equity sudah memberikan return hingga 100%

Namun bagi Anda yang membutuhkan kepastian kami sediakan TABUNGAN TAHAPAN yang berguna bagi pendidikan dan pensiun karena akan bermanfaat 3 generasi anda, Anak Anda dan Cucu Anda. Kunci dari kebijakan ini adalah menabung sedini mungkin dan sebesar mungkin (tentunya dengan membelanjakan uang kita dengan bijak mengurangi belanja konsumtif)

Khusus untuk TABUNGAN TAHAPAN nilai yang direncanakan dijamin  walaupun pun terjadi perang dunia ke tiga sekalipun

Kebijakan tentunnya ada di Anda sebagai penanggung jawab financial, Jangan sungakan untuk berkonsultasi dengan saya Hadi, Agar lebih efektif dan menjaga kerahasiaan akan lebih baik Anda mengundang saya untuk memberikan saran. Dan konsultasi ini tidak di pungut biaya apapun.



Tertarik?
Jika Anda tertarik untuk mendapat informasi yang lebih jelas mengenai Produk Asuransi Terbaik kami, silakan:

Lihat Cara Membeli
Atau hubungi saya, Hadi yang tertulis dibawah ini

Cara mudah mendapatkan solusi Hidup



 


Izin Kutip / Cetak

Kami memperbolehkan Anda yang ingin mengutip artikel sebagian atau keseluruhan naskah yang ada dalam website ini selama Anda menuliskan sumber dan melink-kan URL (http://infoasuransi.net) kepada situs ini.

Untuk pencetakan pun kami perbolehkan, asalkan naskah tersebut tidak untuk dikomersialkan (dijual dalam bentuk buku, dll), tulis sumber dan URL kami sebagai tanda penghargaan anda kepada kami.


Lihat "Tip Memilih Asuransi Cashless terbaik dan terbagus"
Layanan evakuasi di luar negeri Gratis dari Global Assistance & Healthcare®



http://www.infoasuransi.net/asuransi-pendidikan/94-waspadai-inflasi-biaya-pendidikan-yang-lebih-mencapai-20-pertahun.html?tmpl=component&print=1&layout=default&page=

Menyiapkan Biaya Kuliah si Kecil

Photo: Parentsindonesia.com

Jika saat ini Anda memiliki anak yang berusia 1 tahun, jangan kaget bahwa total biaya pendidikannya hingga 18 tahun mendatang, dari SD sampai Perguruan Tinggi, bisa mencapai Rp 1 miliar. Sungguh, kami tidak bergurau!

Menurut Ligwina Hananto MBA, konsultan keuangan Quantum Magna Financial, biaya pendidikan rata-rata naik sekitar 20% per tahun. Belum lagi laju inflasi di Indonesia. “Inflasi untuk sekolah swasta di Indonesia sekitar 20% per tahun, dan 15% per tahun untuk universitas di Indonesia,” tambah Ligwina.

Sebagai gambaran, bila inflasi diestimasikan sekitar 6% per tahun, maka dalam 9 tahun saja, total inflasi menjadi sebesar 54%. Jika saat ini biaya kuliah per semester di universitas negeri Rp 5 juta dengan uang pangkal sekitar Rp 20 juta, maka biaya kuliah yang harus Anda persiapkan untuk tahun 2017 menjadi sekitar Rp 107,8 juta (dengan perhitungan future value). Jika biaya buku perkuliahan dan alat tulis sekitar Rp 5 juta per semester, maka tambahkan lagi angka Rp 77 juta untuk biaya buku selama 10 semester. Belum lagi ongkos transportasi, uang makan, dan biaya hidup jika anak bersekolah di kota lain atau tinggal sendiri, anggap saja sekitar Rp 3,5 juta per bulan dan Anda mendapatkan perkiraan biaya hidup Rp 210 juta. Maka, total biaya untuk menyekolahkan si kecil di tahun 2017 menjadi Rp 400 juta. Itu berarti Anda perlu menyisihkan uang Rp 3,7 juta per bulan hingga 9 tahun ke depan! Dan, perhitungan ini hanya berlaku jika si kecil diterima di Perguruan Tinggi Negeri.

Jika Anda berencana menyekolahkannya di Perguruan Tinggi Swasta, angkanya bisa menjadi dua kali lipat. Membayangkan angka yang demikian fantastis, Anda mungkin merasa pesimis bagaimana bisa membiayai kuliah si kecil kelak, bila saat ini saja tagihan kartu kredit Anda sudah menumpuk di meja. Untuk mendapatkan solusinya, kami bertanya kepada perencana keuangan keluarga untuk membantu Anda. Ini yang perlu Anda ketahui. Menghitung biaya pendidikan.

Menurut Rina N. Sandy, RFA dari Sarosa Consulting Group, ada tiga langkah utama yang perlu Anda ketahui secara pasti. “Langkah pertama adalah menentukan pilihan,” ujar Rina. Pilihan di sini haruslah spesifik, Anda harus menentukan apakah si kecil kelak akan disekolahkan ke sekolah negeri atau swasta, di dalam atau di luar negeri, dengan standar mutu internasional atau nasional. “Menentukan secara persis pilihan sekolah bagi anak, bertujuan untuk mencari tahu berapa besar biaya sekolah dan uang pangkal saat ini.” Lanjut Rina.

Jangan lupakan juga biaya buku sekolah, seragam dan biaya hidup, apalagi jika sekolah yang dipilih berada di luar kota. Setelah Anda tahu persis pilihan sekolah dan total biaya yang dibutuhkan, maka langkah kedua adalah menentukan jangka waktu dan target biaya di masa depan. Jika saat ini si kecil berusia 3 tahun, maka Anda harus mulai berhitung kapan si kecil masuk TK, SD, SMP, SMU, dan Universitas. Kemudian sesuaikan dengan dana yang harus dialokasikan setiap bulan agar jumlahnya cukup ketika si kecil memasuki jenjang pendidikan tersebut.

Rina mengingatkan agar saat menghitung biaya, Anda tidak melupakan laju inflasi, normalnya sekitar 10% sampai 20%. Untuk menghitung biayanya, ada rumus sederhana yang bisa Anda terapkan dengan menggunakan rumus:

    future value: FV= PV. (1+r)n .

        FV atau future value adalah besarnya biaya di masa depan
        PV adalah nominal biaya sekolah saat ini
        r adalah besarnya bunga
        n adalah jangka waktu yang Anda butuhkan


Bingung menghitungnya? Klik saja http://1040tools.com untuk kalkulator future value online. Setelah Anda mendapatkan nominal perkiraan, misalnya Rp 400 juta, maka dalam jangka waktu sampai si kecil masuk kuliah, Anda sudah harus bisa menyiapkan sejumlah besar dana yang dibutuhkan tersebut. Untuk itu, maka langkah ketiga –langkah yang paling penting– adalah menentukan penempatan dana sesuai dengan harapan hasil investasi yang bisa diterima di kemudian hari.

Ada banyak pilihan yang bisa Anda lakukan, mulai dari tabungan pendidikan, asuransi, hingga investasi. Semuanya disesuaikan dengan jangka waktu dan kebutuhan Anda. Jika Anda berani menanggung risiko, Anda bisa mencoba memilih investasi di bursa saham yang akan memberikan hasil yang jauh lebih tinggi daripada deposito atau tabungan pendidikan. Menyimpan biaya kuliah Meski semua penasihat keuangan akan menyarankan Anda untuk mulai menabung biaya pendidikan di rekening tersendiri bagi setiap anak sedini mungkin, jangan khawatir jika setelah melakukan perhitungan, Anda merasa tidak akan bisa menabung dengan jumlah yang dibutuhkan tersebut sampai si kecil berusia 18 tahun.

Sebagai gambaran, bila Anda mulai berinvestasi menggunakan reksadana pendapatan tetap setidaknya sekitar Rp 4 juta per tahun dengan bunga 10% per tahun sejak anak berusia setahun, maka saat si kecil masuk kuliah, Anda akan mendapatkan dana pendidikan sebesar Rp 182 juta. Meski nominal ini masih di bawah (misalnya) angka Rp 400 juta yang Anda butuhkan, dana ini tetap akan sangat membantu dibandingkan Anda tidak menyisihkan uang sama sekali.

Lalu, bagaimana mendapatkan sisanya? Jika usia si kecil masih di bawah lima tahun, maka Anda masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan dana tersebut. Rina menyarankan Anda memilih instrumen investasi jangka panjang seperti reksadana saham. Meski investasi ini memiliki risiko moderat hingga risiko tinggi, tapi hasil investasinya akan cukup tinggi dibandingkan menyimpan di tabungan atau deposito. Yang perlu Anda ingat jika memilih investasi jenis ini adalah Anda menyimpan untuk jangka waktu yang lama, bukan jangka pendek.

Jika Anda ragu-ragu memilih berbagai jenis investasi, maka Rina juga menyarankan agar Anda mencari pekerjaan tambahan. “Ada banyak jenis pekerjaan tambahan yang bisa Anda lakukan, apalagi jika itu menjadi bagian dari hobi Anda,” jelas Rina. Misalnya, Anda pandai membuat kue kering dan kue ulang tahun, Anda bisa menawarkannya kepada rekan kerja atau ibu-ibu di taman bermain si kecil. Atau, jika Anda hobi menulis, Anda bisa menjadi kontributor media cetak. Selain itu, masih ada pilihan lain yang bisa membuat Anda menarik napas lega, universitas besar biasanya akan memberikan beasiswa bagi murid-murid yang berprestasi di sekolahnya. Dan, ini bukan hanya di bidang akademis. Universitas Pelita Harapan di Tangerang misalnya, memberikan beasiswa bagi anak-anak yang menonjol di bidang olahraga bola basket.

Perguruan Tinggi Negeri juga menyediakan beasiswa bagi mahasiwanya yang memiliki nilai akademik tinggi. Bahkan perusahaan besar seperti Sampoerna Foundation, atau Yayasan Chevron Texaco dari Caltex, dan beberapa kedutaan besar di Indonesia, membuka bantuan beasiswa setiap tahunnya. Ketika Anda merasa kewalahan mengatur keuangan dengan berbagai kebutuhan si kecil mulai dari popok, susu, babysitter, hingga uang pangkal si kecil di kelompok bermain, memang berat membayangkan bagaimana Anda masih bisa menyisihkan sedikit uang ekstra dari gaji bulanan Anda untuk biaya pendidikan si kecil.

Yang perlu Anda ingat bahwa saat anak-anak masih kecil, Anda belum berada pada posisi puncak karir dan pendapatan. Lima belas tahun dari sekarang, kemungkinan besar gaji Anda akan meningkat, dan biaya pengeluaran untuk kebutuhan bulanan anak juga semakin berkurang, dan Anda akan punya sisa gaji bulanan yang lebih besar untuk membantu membiayai kuliah anak. Melihat besarnya biaya dengan perspektif nyata

Yang terakhir, Rina menyarankan Anda untuk bersikap realistis. Jika memang kondisi keuangan keluarga belum bisa mencukupi kebutuhan tersier, maka Anda disarankan untuk menurunkan pilihan. “Menyekolahkan anak di perguruan tinggi ternama di Amerika mungkin menjadi cita-cita sebagian besar orang tua, tapi jika kondisi keuangan memang tidak mencukupi, daripada Anda terjebak utang, lebih baik Anda menyekolahkannya di negeri sendiri”, jelas Rina.

Anda memang tidak disarankan untuk meminjam uang ke bank untuk biaya kuliah anak. Mengapa? Karena akan sangat membebani secara finansial jika Anda harus membayar cicilan ditambah bunga. Satu hal yang juga perlu Anda ingat saat mengetahui betapa tingginya biaya kuliah: Besarnya biaya kuliah tersebut adalah proyeksi perkiraan biaya masa depan berdasarkan apa yang terjadi saat ini. Tapi, para ahli beranggapan bahwa biaya pendidikan tinggi semakin lama semakin menggila sehingga kemungkinan besar masih akan dikaji ulang sebelum si kecil yang kini berusia 2 tahun lulus dari SMU.

Saat ini memang tidak ada cara pasti untuk memerkirakan seperti apa gambaran biaya kuliah lima belas tahun lagi. Namun Anda bisa membangun awal yang baik dengan merencanakannya secara bijak dan menyisihkan uang sebanyak yang Anda bisa, serta berusaha untuk tidak terlalu panik memikirkan tingginya angka untuk biaya kuliah si kecil kelak.
Sumber:  Parents Indonesia


http://www.infoasuransi.net/asuransi-pendidikan/95-menyiapkan-biaya-kuliah-si-kecil.html

Tuesday, July 5, 2011

The Sales Pitch That Works Every Time: Tell a Great Story

The Sales Pitch That Works Every Time: Tell a Great Story
By Jeff Gomez | June 23, 2010

Jeff Gomez doesn’t seem like a salesman in thetraditional sense. As CEO of Starlight Runner Entertainment, his job is to turna movie plot (or a toy or any product with narrative potential) into a bigger,more lucrative franchise that will pay off long after the blockbuster has lefttheaters. He’ll turn the story into mobile phone games, comic books,toys – sometimes all of the above – and in the process,turn audience members into brand super fans. In short, Gomez knows how to sella story — something that every good salesman must do. And he hasbecome the go-to person for big brands like Disney, Hasbro, Microsoft, andCoca-Cola. Most recently, he helped James Cameron and 20th Century Fox extend “Avatar”into games, Websites, books, and more. Here’s how he gets peoplehooked.
Name: Jeff Gomez
Location: NY, NY
What I sell: Blockbuster story franchises
Biggest win: Commissioned to turn "Avatar" storyline into games, Websites, and books.
2009 Sales: $10 million


Jeff Gomez, CEO of Starlight Runner Entertainment
How I found my market niche

I’ve always been a gamer and a science fiction geek. It started in my childhood with Japanese pop culture, anime, and Godzilla movies and then I was introduced to J.R.R. Tolkien in the mid-70s. What astonished me was how language could convey an absolutely convincing fantasy world. Starlight was formed to extend those story worlds across multiple media platforms.

I used to teach elementary school, and I still devote at least one day a month to teaching. I started noticing that young people move from one platform to the next with astonishing speed and simplicity; they have become used to absorbing information in many different ways. They jump from TV screen to laptop to mobile phone. But I also noticed that the entertainment and advertising industries were not designing information to be absorbed this way. There’s a huge opportunity there — and that’s where we come in.
Know the story

We do two kinds of research: First, we go to the marketing division of a client or studio and get our hands on as much information as they have gathered in terms of audience research, and for some companies that is a lot of information. We pore through this, but at the same time we go to where the fan base is most active, which is usually on the Internet, and we send a small team of researchers into the fan community to start participating and learning.

Before I even start to think about how to translate “Pirates of the Caribbean” or “Avatar” into sellable franchises, my first step is to get to know every possible detail about the fictional universe — not just what the audience is going to see. We create what I call mythologies — illustrated books containing hundreds of pages of narrative details and descriptions. For “Pirates,” the mythology has every conceivable piece of information: profiles of characters, anatomies of creatures, descriptions of how the magic works, a chronology of events. It’s a central resource for us and for Disney to understand what the pirates are about, the essence of the brand, and how to tell stories that are true to that brand.
Find the right message

In the process, we’re looking for something like, ‘What is the connection between this fictional world and the audience?’ It’s the hook that will make people engage. Without understanding that message, we won’t be able to extend the story into other media. Take the pirate, Jack Sparrow. Someone who had not dug so deeply into the story’s narrative world would treat Jack Sparrow as if he was truly and genuinely a pirate, and if you do that, you are in danger of making that character do awful things and limiting him and what the brand can sell. Jack Sparrow is really just a man who embraces freedom above all things and understands you can have freedom by doing things like dressing like a pirate. He is not really a pirate in the traditional sense. He’s not a murdering thug. He makes the impossible possible. That makes “Pirates” a Disney product, and allows them to sell related products.

To make stories work across different media, you have to understand where the audience member becomes a participant and how to leverage interactivity within the story. With a video game, you try to get the audience member to fully engage physically. Whereas when you’re working with the small screen of a mobile phone, it’s all about intimacy and reaching the consumer on a far more personal level. We guide the client to making these decisions.

You can sell a story to lots of people as long as what is in the story is resonant and “aspirational.” With really good stories, you’ll find intense fans around the world — the people who want to be a part of and live within the story. And when you can help create this connection, you can sell them anything.

http://www.bnet.com/article/the-sales-pitch-that-works-every-time-tell-a-great-story/437931
The Sales Cycle: How to Close Deals That Take Years to Make
By Walter Koellner | June 23, 2010

To say that Walter Koellner sells big-ticket items is anunderstatement. As part of Siemens's Industry Solutions division, Koellner'sjob is to convince large mining companies to spend up to $15 million on largeexcavation machines that contain Siemens's electric drive technology — everything from gear units to motors and engineering software. Koellner, anAustrian native who has been at Siemens for 30 years, calculates his salescycles in years, not months.

Despite these innate challenges and the fact that miningcompanies halted much of their capital spending when the U.S. economy soured,Koellner has excelled. His team generates the second highest sales volume for his division.
Name: Walter Koellner
Location: Alpharetta, GA
What I sell: The drive systems for massive machines that areused at mining sites
Biggest win: Selling the world's first gearless draglinemachine to a mining company in China
Most common objection I hear: "This can't be done."


Walter Koellner of Siemens's Industry Solutions division

Sales is all about patience and persistence, especially in my job. I sell these huge machines that work for 30 years and nobody buys one of these things overnight. I recently came back from South Africa for a sales pitch to Anglo-American on a drag line, a 5-story excavator used in open-pit mining that costs between $150 million and $200 million. For something like that, you have teams of people evaluating and making reports to the company's board. They do all sorts of calculations and look at what the lifecycle cost is, and then there are third parties that have to look at it. And since Siemens has only been in the business of supplying the drive systems for these dragline excavators since 2006, the customer is even more concerned and wants to get all kinds of technical and support details. All this will take more than a year, so we won't know whether we landed this deal until 2011. There's still a long road and I'll probably have to go back to South Africa several more times.
Put in the time

My customers need to know the benefits of Siemens's solution, but they also need to really trust me and the sales team, especially in terms of my ability to provide support for a machine after the deal is closed. This is what takes the most time, especially in the Asian countries like China. You can't build trust over a three-hour meeting. You have to go there again and again. You go with them to dinner and talk about your families. It's a long process of relationship development.

There are few things that can kill a deal faster than not being prepared and not knowing as much about what the customer wants as you possibly can. Sometimes you rush into a meeting without all the proper homework and it shows. This happened many years ago when I met with a manufacturer of trucks that haul mining waste. Our product was too big and it did not meet their shock and vibration requirements. We weren't going to be able to deliver what they needed at the right price as soon as they wanted it. I should have known more about their needs — and our limitations — beforehand. But here's where persistence comes into play — I kept in constant touch and updated them every time there were developments bringing us closer to their ideal machine. Then, 11 years after that first sales call, I received an order.
Read between the lines

Even if you are prepared, it's sometimes necessary to switch gears quickly during a meeting when a certain preference or concern emerges. It's important to stay flexible and listen to what the customer wants. This is where you find the real insights, and you often have to read between the lines to know what it really is a customer wants.

When I tried to sell the world's first gearless dragline together with the manufacturer Bucyrus to a customer in Inner Mongolia, China, they asked, "How will you provide technical support for the machine since we're all the way out here in Inner Mongolia?" I talked about warranties and the reliability of our system, but that wasn't enough. So we told them we had a machine working on a mining site in Canada that was hooked up to a remote diagnostic system. We were able to call it up in real time and show the customer that it's possible to see how the machine is operating half a world away. This helped them overcome their fear of having to deal with difficult issues all by themselves and it was a big part of closing the deal.

-As told to Melanie Warner

http://www.bnet.com/article/the-sales-cycle-how-to-close-deals-that-take-years-to-make/437926

How to Build Rapport with Any Customer

How to Build Rapport with Any Customer
By Orvin Kimbrough | June 23, 2010

Orvin Kimbrough joined United Way of Greater St. Louis inJanuary 2007 — just in time to battle the effects of the loomingeconomic crisis. Kimbrough, 35, is the senior vice president of major andplanned gifts, handling relationship management for United Way’s200,000 donors in his region. While 2008 charitable giving across organizationsdeclined by 2.4 percent, according to a study byGiving USA Foundation, Kimbrough’s numbers rose, from the $22.44million he helped raise in 2007 (up from $20.98 million in 2006) to $22.92million in 2008. Last year’s numbers are not yet final. But Kimbroughis responsible for bringing in roughly one-third of the $67 million that UnitedWay of Greater St. Louis has recorded so far. Here’s how he does it.
Name: Orvin Kimbrough
Location: St. Louis
What I sell: United Way's mission
Amount raised in 2009: About $22 million
What doesn't work in my field: A lack of authenticity


Orvin Kimbrough, senior VP of major and planned gifts for United Way



I believe in what I’m selling. I just need to tell the story, which is that we help people. I personally connect with the services we support because I grew up in the foster care system and benefited from United Way funds. It gives me a different perspective. When I stand before donors and prospective donors, I speak from a position of strength.

Where it makes sense to do so, I’ll disclose my story. You have to be relatable. One thing we all have in common as human beings is that we were once kids. We learn through stories and love hearing about people who struggled and made it through.
Meet people where they are

The economic climate was tough this year. I was at my desk when I got a call from a family member who wanted to know if he could use my house for storage. I asked why he wanted to do that when he had his own. Turns out he was about to lose his house. Later that day, I was speaking to a group of African American executives — donors and potential donors. Research suggests that African Americans have been disproportionately affected by unemployment. Community and extended family are important to them. When I walked into the room to speak, I heard someone describing an experience similar to the one I’d had with my relative. I decided to tell the group about the phone call I’d just gotten. Your message depends on the audience and the vibe you’re getting. Meet people where they are. Go in with the mindset that no matter what the client’s need is, you’re going to meet it. You want to identify with your audience. Keep your antennae up.

People are entitled to their opinions. If someone isn’t interested in what you’re offering, you can’t expect to change a set belief. But you can ensure that that belief is based on fact. For example, I often hear, “So few resources actually get to the people.” But the United Way of Greater St. Louis has the lowest overhead cost in the U.S. When I demonstrate that we spend just 10 cents of every dollar on overhead, as opposed to the national average of 20 to 40 cents on the dollar, that information is transformative.
It’s about the relationship, not the transaction

Sometimes salespeople don’t seem natural, and people pick up on that lack of authenticity. You’ve got to be guided by the best interests of the people you’re selling to. I’ve had situations where potential donors want to specify a particular charity to receive their donation. I explain that we don’t do that. United Way covers all the bases, funding organizations that people know about and those they don’t. Just because you support one cause, doesn’t make the others less important. I’ve gone on to say that if they are truly that passionate about a single cause, then they should support it instead. And often I’ve had people who appreciate the honesty so much that they’ll choose to donate to United Way in the end. What looks like a missed opportunity turns into a lifelong relationship.

It’s about building rapport. It’s not about the transaction. That’s what gets most of us in trouble.

-As told to Adriana Gardell


http://www.bnet.com/article/how-to-build-rapport-with-any-customer/437943

How to Build Trust to Boost Your Sales

How to Build Trust to Boost Your Sales
By Melanie Warner | June 23, 2010

When disgraced auto executives boarded their multi-milliondollar jets and flew to Washington to plead for more government bailout moneyin the fall of 2008, the image of private aircraft took a severe hit. Worriedabout appearing extravagant and equally out of touch, companies scrambled tosell their jets. Despite the industry’s tarnished image, Andrew Mearns,a sales rep for Flexjet, managed to not only sell a few aircraft, but he turnedaround an underperforming region to become Flexjet’s top grossingsales person for 2009. He did it by persuading both companies and wealthyindividuals that owning private aircraft is smart business. “This isnot people having caviar and champagne at 40,000 feet,” says Mearns,who covers the New England and eastern Canada territories for Flexjet. “It’sa way for busy people to maximize their time.”
Name: Andrew Mearns
Location: Boston, MA
What I sell: Whole and fractional private aircraft ownership for Flexjet
Biggest win: Running the flight department of a Fortune 500 manufacturing company
Days of the week spent traveling: 3-4


Andrew Mearns, sales rep for Flexjet

BNET interviewed Andrew about his strategy:

I approach sales like it’s a long-term partnership. I don’t want to be just selling something to somebody — what I want to be is their adviser, their confidant, somebody who’s looking out for their needs in a very real way. It’s really a whole different conversation.

I had an experience in my mid-20’s that was an epiphany in terms of my attitude about sales. This was before I joined Flexjet, when I was an aircraft broker, focused on selling whole corporate jets and helicopters. I was actively marketing a corporate jet and had located a buyer who was ready, willing, and able to move forward with the purchase of the aircraft. But it became clear that the aircraft was more than they needed. Instead of pushing my position, I was honest about the situation and they bought a different, better-suited aircraft.

The lesson came almost two years later when that client decided to upgrade to a bigger, newer aircraft. They remembered what had transpired and asked me to accept the exclusive listing to sell the original aircraft and to simultaneously represent them in the search and acquisition of their next purchase. Two years earlier, I had lost out on a $1 million deal, but I ended up winning two transactions totaling over $7 million. Integrity won in a very big way and I never forgot this lesson.

I’ve actually had clients say things like, “You’re a salesman, aren’t you supposed to be trying to sell me more?” You have to start with honesty to build trust. I’m not trying to gain a one-time win for myself; the goal is a long-term mutually beneficial partnership. On Tuesday, one of my clients wrote me a note that ended with: "And I LOVE Flexjet!!!" This is what I live for.

One of the other things I’ve learned from many years of sales is that face-to-face interaction is critical. On the phone people tend to be in a bit of a hurry.

I can usually get a meeting with prospective clients once I’ve explained how Flexjet can help them be more productive. I try to paint a mental picture of what life can be like after they join our program, so I ask them to: "Imagine if you and your team could conduct three presentations in three different states in one day and still make it home for dinner with your families."

And sometimes we go the extra mile with face-to-face meetings. Last year when we were trying to win the business of a flight department of a large manufacturing company, we invited the whole team to fly down in one of our aircraft to our main operations center in Richardson, TX for the day. We wanted them to meet and talk to all our key operations people so they could collect the data they needed. And they were able to see firsthand what it was like to be a Flexjet customer. After six months of work, we got a several million dollar deal and it’s now one of the largest I support.

Most of our prospective clients do a demonstration flight on one of our aircraft. I always make a point of going to meet them on the outbound leg, so I can personally introduce them to the pilots, show them around the aircraft and encourage them to ask myself and the crew any questions that they can think of.

And yes, I usually fly commercial and coach. I recently came back from meeting a new client for a demonstration flight in Montreal and my flight back to Boston was delayed three hours and it took two hours to get through immigration. It’s a good reminder of the selling points of private aircraft.

— as told to Melanie Warner

http://www.bnet.com/article/how-to-build-trust-to-boost-your-sales/437938

How to Get Sales Referrals to Do the Work for You

How to Get Sales Referrals to Do the Work for You
By Steve Kaneski | June 23, 2010

When people are worried about job security and next month’smortgage payment, it’s not easy getting them to think about whatmight happen 10 or 20 years down the road. But that’s Steve Kaneski’sjob. As an agent for New York Life for over 20 years, he sells life insurance,annuities, and other long-term investments to clients, mostly doctors, in theSacramento area. And despite a 15 percent drop in the individual life insurancemarket in 2009, Kaneski’s business is booming. For2008, Kaneski, who works with six assistants and three associate brokers, soldmore insurance and financial products than any of New York Life’s11,000 brokers, racking up hundreds of millions of dollars in insuranceproducts and tens of millions of dollars in securities.
Name: Steve Kaneski
Location: Roseville, CA
What I sell: Life insurance and financial products forNY Life
Toughest thing about my job: Getting people to focus onlife and death issues — something no one likes to talk about.
Number of prospects I see in myoffice every week: 15-20


Steve Kaneski of New York Life

There’s no doubt that this is a difficult environment. While all of my physician clients are still employed, people are uncertain and they are all very nervous about the healthcare bill and how all of the cost containment measures might affect them. So I’m working more hours and answering a lot more questions. And this resulted in a great 2009 for my firm, as I was able to do over 300 cases, while the industry average is around 30. And for the first quarter of 2010, we were up 40 percent over last year.
A system for everything

I see clients face to face two to four times a year for meaningful reviews. I also send out newsletters six times a year and do targeted seasonal cards. And I make myself available, working three evenings a week and every other Saturday.



Many financial advisers say that they meet with their clients frequently, but most don’t have the systems and processes in place to make it happen. We do 4 or 5 appointments a day.

To make sure I’m spending enough time with clients, I’ve systematized everything I do. In our first meeting I invest a lot of time in fact-finding to determine what their goals and priorities are, since life insurance is one of the most personal decisions a person can make. I do an analysis of everything they’ve shared with us, then have a second appointment where we discuss strategies and options. Then we do a finishing appointment, where we answer questions and review what we have accomplished. Each one of these meetings often lasts two hours. This is significantly more time than clients are going to get with most financial services reps.

Referrals are the key to any business, so you want to have a lot of interactions with your clients so that you’re the guy always on the tip of their tongue, the person they go to with any insurance or financial issues. This not only helps retain clients, but they are more likely to refer me to their friends and family. Great salespeople get referrals without asking for them.
Weed out the wrong clients

To me, one of the most overlooked secrets for being successful in sales is having the right clients. Early in my career I started working with doctors because they are smart and, having gone through years of schooling, understand delayed gratification, which is what retirement planning is all about. To find these clients, we do a series of educational seminars about goal setting, retirement and tax-favored investments, estate planning, and proper allocation. I don’t mention or sell any products. Instead it’s about giving people time-tested information, and it’s a weeding out process to attract people who are motivated to act.

If people don’t have what I call “character,” then I don’t work with them. I have a silly, but effective way of finding this out. I ask them, “On a scale of 1 to 10, 10 being very important, how much do you want your partner’s hopes and dreams to be protected if something were to happen suddenly?” If their answer is less than a 6, then they don’t have the motivation I’m looking for. I can try to get them to see the benefits of life insurance, but if they truly don’t care what happens to their family after they’re gone, then that’s not a person I want as aclient.

When you work with people of character, you can have honest and sometimes difficult conversations with them about what’s important. I had a trauma surgeon in the office for a first appointment recently. He makes $450,000 a year, and for years he’d been carrying $500,000 of life insurance through another rep. This means that if he should pass, his wife would have just one year’s worth of life insurance to cover the mortgage, the student loan debt and to care for their young children. I had to tell him that he was clearly underinsured, which is hard because it implies he is either operating under a misconception or purposefully avoiding this issue. Since he identified himself as an 8, we were able to move forward and now he has $5 million of insurance coverage.

-As told to Melanie Warner

http://www.bnet.com/article/how-to-get-sales-referrals-to-do-the-work-for-you/437940

How to Persuade the Reluctant Buyer

How to Persuade the Reluctant Buyer
By Faith Hope Consolo | June 23, 2010

Known as the "Queen of Retail," broker FaithHope Consolo discovered a niche — finding the perfect store locationsfor national and international luxury retailers — and built it toregal proportions. In 2005, Prudential Douglas Elliman Real Estate established its retail leasing and salesdivision exclusively for her. She has been the company’s top brokerfor the past two years in a row, despite precipitous declines of 50 percent ormore in the commercial and retail leasing and sales industry.
Name: Faith Hope Consolo
Location: Based in New York
What I sell: Commercial real estate space to luxury retailers
2009 sales: $222 million (aggregate)


Prudential broker Faith Hope Consolo

I am not driven by the dollar. It’s the deal for me — making the transactions and bringing the right retailer to the right street, whether that is New York or Chicago, San Francisco or Los Angeles or Palm Beach. It’s like putting the right piece into a puzzle.

When I was first starting out in the late 80s, my mentor Lloyd Putter taught me how to canvass in the streets and how to look at space. He said, “You will call all the stores you have ever shopped in and ask them about expanding,” and that is exactly what I did — no computer, no research. My first client was Godiva. I called the chairman and said, “Don’t you think you should expand in New York?” He said, “That’s ironic. We are just thinking of this now.” Three months later I found a 1,000 square foot space across the street from the Waldorf Astoria. Godiva is still there today.
Keeping the Pulse

One advantage I have is that I have been through three downturns before. With each one, it is all about knowing the trends. You have to figure out which retailers are pulling back and which ones are expanding.

When we had a dip in the late 1990s, there was a real focus on affordable fashion. So we had to go to Europe to look for clients, and we brought Benetton to Manhattan and then came H&M and Zara. During the recent downturn, we aggressively went out and put smaller retailers, like Variazione, and local mom and pops in spaces that made sense, for example on Madison Avenue, where they had been shut out before by the nationals and internationals, who are being very cautious now.

Last year, I did double the transactions of the year before to keep up with the dollar volume. It is work, work, and hard work. I am constantly looking for changes. Especially in New York, you have to go to a neighborhood every week, to keep the pulse, or you can’t do this job. I’m looking for street life, for new people moving in, and the types of people that make up a neighborhood — young families, young singles, established families, etc. That way I’ll know what they need. We’ve all seen how demographics can change rapidly.
“No” Is Never Really “No”

Listening is one of those key things that brokers don’t do enough of in sales: They don’t listen to their customers and they don’t listen to the market, and that is frightening. You have to be able to identify everybody’s interests. I have very good listening skills, which helps me tremendously — that, and I don’t believe in “no.” There’s always a way to change a “no” into a “yes.”

You get past the biggest objections with persistence. In 1996, I received a call from the chairman of Cartier, who said he had a very confidential assignment for me: Contrary to what most people thought, the company didn’t own the Cartier Mansion on 52nd and Fifth — it leased the building. The problem was, the lease was expiring in three years and Cartier had an adversarial relationship with the owner, the Onassis Foundation.

After several spirited meetings at the Foundation’s office (one of the principals even jumped up on a table to scream at me), I went back to Cartier and told them the deal wouldn’t get done in New York. We had to go to Greece and meet with the board of the Onassis Foundation personally. When we got there, we spent only about two hours a day on business and the rest on social breakfasts, lunches, and dinners. After two days of this, I took one of the foundation heads aside and said, “This is a long-term relationship; it’s not just about money. Let’s make this work, Cartier is a good fit for you.” It was a huge deal, not only because I kept Cartier’s image intact, but then the Onassis Foundation retained me to be their adviser for all of its lease renewals on rest of the block.

I am very lucky to love what I do. This is my passion.

-As told to Jeremy Quittner

More Gods of Sales:
The King of Referrals
The Trusted Adviser
The Rapport Builder
The Patient Pitchman
The Master Storyteller


http://www.bnet.com/article/how-to-persuade-the-reluctant-buyer/438002?tag=content;drawer-container